Aceh Timur, JejakBlora.id – Perjalanan darat berjam-jam dari Medan menuju pedalaman Aceh Timur terasa begitu panjang. Jalan yang dilalui rombongan Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman, masih menyisakan jejak duka, puing rumah, lumpur mengering, dan kisah pilu warga yang baru saja dihantam banjir besar akhir 2025 lalu.
Namun di balik perjalanan itu, ada rindu yang hendak disapa. Rindu pada kampung halaman bernama Blora, yang telah puluhan tahun tertanam di tanah transmigrasi Desa Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron, sebuah kampung Jawa di jantung Aceh Timur.
Senin (2/2/2026) sore, Bupati Blora mendampingi Ketua PWNU Jawa Tengah KH. Abdul Gaffar Rozin menyalurkan bantuan bagi warga Jawa Tengah korban banjir. Bukan sekadar kunjungan resmi, melainkan perjalanan batin untuk menyapa diaspora Blora yang telah menetap jauh dari tanah kelahiran sejak dekade 1980-an.

Di desa yang dikelilingi bukit, lembah sungai, dan kebun sawit itu, rombongan disambut senyum haru warga. Salah satunya Mbah Jiyo, lelaki sepuh asal Desa Seren, Sendangwungu, Blora, yang ikut program transmigrasi pada 1980 silam.
“Dulu berangkat dari Blora masih zaman Bupatinya Pak Sumarno,” kenangnya lirih.
Langkah pertama rombongan diarahkan ke Musholla Miftahul Ulum, Dusun Dataran Indah. Musholla kecil ini sempat luluh lantak diterjang banjir. Kini, bangunan itu kembali berdiri, hasil gotong royong dan kepedulian Tim Relawan PWNU Jawa Tengah. Di tempat inilah doa-doa warga kembali dilangitkan, setelah air bah surut meninggalkan trauma.
Di hadapan warga, KH. Abdul Gaffar Rozin menyerahkan bantuan PWNU Jawa Tengah senilai Rp 4,2 miliar kepada PWNU Aceh yang diwakili Tengku Ahmad Afzal. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi pembangunan kembali musholla, sekolah, dayah, serta penyediaan kitab suci, buku pelajaran, hingga perlengkapan pendidikan agama.
“Relawan kami sudah sebulan berada di sini. Saat itulah kami tahu, ternyata banyak warga Blora di desa ini. Maka kami ajak Pak Bupati untuk menyapa, bernostalgia, sekaligus menguatkan saudara-saudara kita,” tutur KH. Abdul Gaffar Rozin.
Tak hanya dari PWNU, kepedulian juga datang dari Pemerintah Kabupaten Blora.Melalui Baznas dan Korpri, Bupati Arief Rohman menyerahkan bantuan total Rp 230 juta, hasil donasi masyarakat dan ASN Blora. Bantuan tersebut disalurkan ke enam kabupaten terdampak banjir di Aceh dan Sumatera Barat, untuk perbaikan rumah ibadah dan lembaga pendidikan.
“Kami hanya ingin berbagi. Dari Blora untuk Aceh. Ternyata di sini juga banyak sedulur Blora. Mugi-mugi manfaat nggih,” ucap Bupati dengan nada penuh empati.

Ketua Baznas Kabupaten Blora, H. Sutaat, menjelaskan bahwa bantuan Baznas diserahkan secara tunai, sementara bantuan Korpri melalui transfer rekening. Setiap kabupaten menerima dukungan untuk mempercepat pemulihan pasca bencana.Sementara itu, Tengku Ahmad Afzal dari PWNU Aceh tak kuasa menyembunyikan rasa terima kasihnya.
“Kondisi masyarakat kami, fisik dan psikisnya, benar-benar di titik nol. Kehadiran langsung Pak Bupati Blora dan PWNU Jawa Tengah ini menjadi energi baru untuk bangkit,” ungkapnya.
Banjir besar di Peunaron menyisakan cerita pilu. Air sungai meluap, menenggelamkan rumah hingga hanya menyisakan atap. Bahkan, pascabanjir, seorang warga dilaporkan meninggal dunia akibat diterkam buaya saat menyeberangi Sungai Peureulak.
Di tengah duka itu, kunjungan Bupati Blora menjadi penguat batin. Bupati bahkan menyempatkan diri bersilaturahmi ke rumah Mbah Jiyo, yang kini membuka warung kopi sederhana di depan SDN 4 Peunaron tempat warga bercengkerama, berbagi cerita, dan mengenang Blora yang jauh di mata, namun dekat di hati.
Di desa ini, warga Blora dari Karangnongko Buluroto, Dluwangan, Randublatung, dan daerah lain masih menjaga logat Jawa dan ingatan tentang kampung halaman. Dan sore itu, Blora seolah benar-benar hadir di Tanah Aceh—membawa bantuan, harapan, dan rasa persaudaraan. (jb)









