Di Lereng Gunung Manggir, Kesabaran Ketua MWC NU Todanan Akhirnya Berbuah Manis

banner 400x130

Todanan, JejakBlora.id – Tak ada yang instan di lereng Gunung Manggir. Di tanah berbatu Desa Ngumbul, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, waktu berjalan pelan, sepelan kesabaran orang-orang yang menggantungkan harapannya pada alam.

Di sanalah M. Saymuri menanam ratusan pohon alpukat, satu demi satu, sejak 2019 lalu.

Bacaan Lainnya

Bukan dengan modal besar, bukan pula dengan target cepat panen. Saymuri menanam dengan keyakinan sederhana bahwa alam akan membalas kerja yang dilakukan dengan tekun. Bertahun-tahun ia menunggu, merawat, dan menyisihkan hasil seadanya untuk kembali ditanamkan ke tanah lereng gunung yang tak selalu ramah.

Kini, kesabaran itu mulai menjelma nyata. Dari panen perdana saja, kebun alpukat di ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu mampu menghasilkan pendapatan sekitar Rp17 juta.

Angka yang mungkin tak mencolok di kota, namun sangat berarti bagi petani desa yang merawat tanamannya dengan tangan sendiri.

Kebun tersebut ditanami sekitar 200 pohon alpukat, terdiri dari varietas bernilai jual tinggi seperti Aligator, Kendil, dan Miki. Medan yang berbatu membuat penanaman dilakukan bertahap, mengikuti kemampuan dan pertumbuhan pohon.

“Ini bukan soal cepat untung. Saya tanam dengan niat investasi jangka panjang. Modalnya seadanya, yang penting sabar,” kata Saymuri, sambil menunjukkan alpukat yang mulai tua.

Selain alpukat, Saymuri juga menanam petai, cabai, kencur, merica, dan pisang. Diversifikasi itu bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan cara bertahan hidup di lereng gunung, agar selalu ada yang bisa dipanen, sambil menunggu tanaman utama berbuah.

Perawatan kebun dilakukan secara sederhana namun konsisten. Setiap bulan, pohon-pohon itu dipupuk menggunakan pupuk kandang dan NPK 16-16. Tak ada teknologi mahal, tak ada perlakuan istimewa.

“Kalau dirawat rutin, tanaman itu tahu sendiri kapan harus membalas. “Yang penting jangan ditinggal,” ujarnya.

Lahir pada 15 September 1965, Saymuri bukan hanya petani. Ia juga dikenal sebagai tokoh NU dan menjabat Ketua MWC NU Kecamatan Todanan. Bagi ayah tiga anak ini, bertani adalah bagian dari ibadah sosial – ikhtiar menjaga alam sekaligus memberi teladan tentang kemandirian.

Ia percaya, bertani bukan pekerjaan kalah zaman. Justru di sanalah nilai kesabaran dan ketekunan diuji.

“Anak-anak sekarang jangan takut bertani. Hasilnya memang tidak instan, tapi pasti. Alam tidak pernah ingkar,” tuturnya sembari menghela nafas.

Di lereng Gunung Manggir, pohon-pohon alpukat itu kini mulai sarat buah. Seperti kisah di baliknya, hasilnya datang bukan karena tergesa-gesa, melainkan karena kesabaran yang dirawat bertahun-tahun.

Dari desa, dari kerja yang sunyi, sebuah pelajaran tumbuh perlahan-bahwa apa yang ditanam dengan tekun, akan berbuah pada waktunya.(jb)

banner 300x250

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *