Todanan, JejakBlora.id – Suasana berbeda terasa di halaman SMP Negeri 1 Todanan, Sabtu pagi (7/2/2026). Bukan hanya suara tawa siswa yang riuh, tetapi juga kesibukan kecil di sekitar dua kolam lele di sudut sekolah. Hari ini ribuan ekor lele yang selama berbulan-bulan dirawat dengan sabar akhirnya dipanen.
Sekitar 3.000 ekor lele berhasil diangkat dari kolam. Bagi siswa SMPN 1 Todanan, panen ini bukan sekadar hasil budidaya ikan, melainkan buah dari proses belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, dan kemandirian yang mereka jalani bersama para guru.
Kepala SMPN 1 Todanan, Totok Sunarto, S.Pd., menyebut budidaya lele sebagai ruang belajar kehidupan yang nyata bagi para siswa. Di kolam sederhana itu, anak-anak diajak memahami bahwa keberhasilan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses yang konsisten dan penuh disiplin.
“Hari ini kita panen, lalu lele dimasak dan dimakan bersama-sama. Dengan jumlah siswa mencapai 767 anak, momen seperti ini menjadi sarana kebersamaan dan pembelajaran nilai-nilai hidup,” tutur Totok di sela kegiatan.
Yang membuat program ini kian bermakna, seluruh kebutuhan pakan ikan tidak berasal dari iuran orang tua maupun anggaran sekolah. Pakan lele dibeli dari hasil penjualan sampah plastik dan kardus bekas yang dikumpulkan siswa setiap hari.

Dari tumpukan sampah yang sering dianggap tak bernilai, para siswa belajar tentang kepedulian lingkungan sekaligus pengelolaan ekonomi sederhana. Sampah dipilah, dijual, lalu hasilnya kembali ke kolam lele—sebuah siklus edukasi yang sarat makna.
“Anak-anak jadi paham bahwa menjaga lingkungan bisa memberi manfaat nyata. Uang dari sampah itulah yang kami gunakan untuk membeli pakan ikan,” tambah Totok.
Dalam keseharian, perawatan lele dilakukan oleh tim siswa yang dibagi secara bergiliran. Mereka belajar memberi pakan tepat waktu, menjaga kebersihan kolam, hingga memastikan ikan tumbuh sehat.
“Jadi, guru hanya mendampingi, memberi arahan, dan membiarkan siswa belajar langsung dari pengalaman,” tuturnya.

Saat panen usai, kegiatan berlanjut ke dapur sederhana. Suwanto, S.Pd., guru IPA, tampak ikut membersihkan lele bersama siswa.
“Lele kita bersihkan, keluarkan kotorannya, dibelah, dicuci bersih, dimarinasi, lalu digoreng. Anak-anak ikut melihat dan membantu prosesnya,” jelasnya.
Bagi siswa, pengalaman ini meninggalkan kesan mendalam. Wisnu, salah satu siswa, mengaku bangga bisa terlibat dari awal hingga akhir.
“Senang sekali. Dari merawat lele, panen sendiri, sampai makan bersama teman-teman. Rasanya beda karena ini hasil kerja kami sendiri,” katanya polos, sambil tersenyum.
Melalui budidaya lele, SMPN 1 Todanan menanamkan pelajaran yang tak tertulis di buku: tentang kesabaran, tanggung jawab, kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Dari kolam sekolah yang sederhana, siswa belajar menyiapkan diri menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. (jb)









