Todanan, JejakBlora.id – Kelangkaan pupuk urea bersubsidi yang terjadi selama sekitar tiga bulan terakhir di Kabupaten Blora, khususnya di Kecamatan Todanan, semakin meresahkan para petani. Pemerintah Kabupaten Blora pun dinilai perlu bergerak lebih cepat untuk mengatasi persoalan tersebut.
Di tengah musim tanam kedua, para petani mengaku kesulitan mendapatkan pupuk urea bersubsidi yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil panen. Sejumlah petani menyebut sudah lama memesan pupuk melalui Penyalur Pupuk Tingkat Sektor (PPTS), namun hingga kini belum juga menerima kiriman.
“Alasannya selalu sama, kiriman dari pabrik dibatasi. Ada yang bilang kapal penyeberangan tidak berani menyeberang karena ombak besar, ada juga yang menyebut armada pengiriman dibatasi muatannya. Biasanya 35 ton per rit, sekarang hanya sekitar 15 ton,” ungkap Jamal, salah satu petani di Kecamatan Todanan.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sidojoyo Desa Kacangan, Kecamatan Todanan, Fuad, menilai berbagai alasan tersebut sulit diterima oleh para petani.
“Kalau ombak besar, masak setiap hari? Kalau armada dibatasi muatannya, perusahaan seharusnya bisa menambah armada. Jangan sampai petani dipersulit. Harganya memang subsidi, tapi kalau barangnya tidak ada, sama saja petani tidak bisa memanfaatkannya,” tegas Fuad.
Menurut Fuad, kelangkaan pupuk urea bersubsidi ini sangat merugikan petani, terlebih pada masa musim tanam yang membutuhkan pasokan pupuk dalam jumlah besar agar tanaman bisa tumbuh optimal.Ia pun berharap pemerintah daerah segera turun tangan mencari solusi agar distribusi pupuk bersubsidi dapat kembali normal.
“Kami berharap Pemerintah Kabupaten Blora serius menangani persoalan ini. Jangan sampai petani menjadi korban karena keterlambatan penanganan masalah,” ujarnya.
Para petani di Blora pun mendesak pemerintah daerah bersama pihak terkait untuk segera mengambil langkah konkret guna memastikan ketersediaan pupuk urea bersubsidi di tingkat petani.(jb)
