Dari Kandang Bebek Telur Sederhana, BUMDes Desa Dalangan Ditumbuhkan

Todanan, JejakBlora.id – Pagi belum terlalu tinggi ketika suara bebek mulai riuh dari sebuah kandang berukuran 9 x 12 meter di Desa Dalangan, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Di balik pagar kayu sederhana dan lantai beralas jerami itu, ratusan bebek petelur bergerak lincah, seolah menyambut rutinitas hari yang selalu sama, namun penuh harapan.

Di sudut kandang, Jais melangkah pelan sambil memeriksa satu per satu nampan telur. Tangannya cekatan, wajahnya tenang. Telur-telur bebek berwarna hijau kebiruan tersusun rapi, hasil kerja yang tidak datang seketika, tetapi melalui proses panjang dan kesabaran.

Bacaan Lainnya

“Awalnya memang belum banyak. Tapi sekarang sudah mulai kelihatan hasilnya,” ujar Jais sambil tersenyum tipis, Sabtu (10/1/2026).

Ia (Jais) adalah pengelola unit usaha bebek petelur milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Argo Pangan Dalangan. Usaha ini baru berjalan sekitar satu bulan sepuluh hari. Namun sejak sepuluh hari pertama memasuki masa produksi, kandang sederhana itu mulai menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar telur, namun harapan akan kemandirian desa.

Saat ini, dari total 300 ekor bebek petelur, produksi harian masih berkisar 130 butir. Angka itu belum maksimal. Bebek-bebek tersebut baru berusia tujuh bulan, sementara produksi optimal biasanya baru tercapai ketika memasuki usia delapan bulan.

“Masih proses belajar juga, buat kami. Yang penting konsisten dan sabar,” kata Jais.

Rutinitas di kandang sudah diatur dengan disiplin. Setiap pagi, sekitar pukul 07.00 WIB, telur-telur dikumpulkan lebih dulu sebelum bebek diberi pakan. Sore hari, tepat pukul 17.00 WIB, pakan kembali dibagikan. Kebersihan kandang menjadi perhatian utama, kolam air minum dibersihkan, kotoran dibuang, jerami diganti secara berkala.

Bagi Jais, menjaga kandang tetap bersih sama pentingnya dengan memberi pakan,“ kalau kandang kotor, bebek gampang sakit, telur juga bisa jelek,” ujarnya.

Dalam sehari, setiap 100 ekor bebek menghabiskan sekitar 12 kilogram pelet. Artinya, 300 ekor membutuhkan 36 kilogram pelet per hari. Sesekali, pakan tambahan berupa daun pepaya dan kangkung diberikan dua kali seminggu. Selain sebagai nutrisi tambahan, cara ini dipercaya membantu menjaga kualitas telur agar lebih bersih dan sehat.

Telur-telur hasil kandang BUMDes Argo Pangan ini dipasarkan dengan harga Rp2.000 per butir. Pembelinya masih berasal dari lingkungan sekitar desa, mulai dari warga hingga penjual martabak yang membeli dalam kemasan kotak berisi 30 butir.

Namun tidak semua telur dijual. Sebagian dibagikan kepada warga. “Setiap tahap kami bagikan sekitar 10 butir per rumah warga,” tutur Jais.

Baginya, usaha desa bukan hanya soal untung rugi, tetapi juga soal berbagi manfaat kepada masyarakat Dalangan.

Usaha bebek petelur ini lahir dari Dana Desa (DD) Tahun 2025. Di mata pengelola, program ini bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan investasi jangka panjang.

Bebek petelur, kata Jais, bisa berproduksi hingga 14 bulan lamanya.“Setiap hari bisa panen. Setiap hari juga desa punya hasil,” ucapnya.

Di tengah keterbatasan dan proses yang masih berjalan, kandang bebek di Desa Dalangan itu menjadi saksi bagaimana desa perlahan belajar berdiri di atas kaki sendiri.

Dari telur-telur yang dipungut setiap pagi, tumbuh keyakinan bahwa ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi bukan hanya milik kota, tetapi juga bisa dimulai dari kandang sederhana di sudut desa. (jb)

Pos terkait